Kamis, 29 Desember 2011

TEKNOLOGI PEMBUAT PAKAN SAPI POTONG

Teknologi Pembuatan Silase Jagung Untuk Pakan Sapi Potong PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Selasa, 13 April 2010 12:46
Pemanfaatan sumber daya pertanian tanaman pangan dalam bentuk limbah sebagai sumber pakan ternak merupakan langkah effisiensi mengatasi kekurangan produksi rumput. Limbah pertanian termasuk sumber hijauan in-situ yakni tersedia dalam jumlah melimpah dan mudah diperoleh. Sebagian besar limbah pertanian dapat dimanfaatkan untuk bahan pakan ternak sapi. Dari bermacam-macam limbah pertanian yang mempunyai potensi besar sebagai sumber hijauan adalah jerami jagung. 

Jerami jagung merupakan hasil ikutan bertanam jagung dengan tingkat produksi mencapai 4-5 ton/ha. Kandungan nutrisi jerami jagung diantaranya protein 5,56%, serat kasar 33,58%, lemak kasar 1,25, abu 7,28 dan BETN 52,32%. Dengan demikian, karakterisitik jerami jagung sebagai pakan ternak tergolong hijauan bermutu rendah dan penggunaannya dalam bentuk segar tidak menguntungkan secara ekonomis. Selain itu, jerami jagung memiliki kandungan serat kasar tinggi sehingga daya cernanya rendah. 

Kualitas jerami jagung sebagai pakan ternak dapat ditingkatkan dengan teknologi silase yaitu proses fermentasi yang dibantu jasad renik dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen). Teknologi silase dapat mengubah jerami jagung dari sumber pakan berkualitas rendah menjadi pakan berkualitas tinggi serta sumber energi bagi ternak. 

Bangunan Dan Peralatan 

Tempat pembuatan silase jagung disebut Silo. Bentuk silo berupa bangunan berbentuk silinder atau bunker yang dapat ditutup rapat. Cara lain pembuatan silase yaitu dengan membuat lubang seperti sumur yang diberi alas plastik. Selain itu dapat juga digunakan drum yang terbuat dari plastik. Peralatan yang digunakan dalam pembuatan silase antara lain alat pencacah hijauan, plastik atau bahan lain yang kedap udara. 

Bahan Baku 

Pembuatan Silase Bahan baku utama yaitu jerami jagung 1 ton (kadar air 60-70%) sedangkan bahan pencampur terdiri dari urea 2,5 kg, gula saka/molases 4 kg dan dedak halus 5 kg. 

Proses Pembuatan Silase Jagung 

Proses pembuatan silase dilaksankan beberapa tahap yaitu tahap fermentasi, pengeringan dan penyimpanan. 
  1. Tahap Fermentasi 
  • Jerami jagung yang telah dilayukan kadar air 60-70% dipotong-potong 3-5 cm 
  • Gula tebu dilarutkan dengan 12 liter air dengan cara diaduk atau direbus 
  • Jerami jagung yang telah dipotong dimasukkan kedalam tempat pembuatan dengan cara ditumpuk dan dipadatkan 
  • Pemberian urea, dedak halus dan larutan gula tebu dilakukan secara bertahap dan berlapis. 
  • Setiap ketebalan tumpukan berkisar 20 cm urea, dedak dan larutan gula tebu ditaburkan dan disiram secara merata. Demikian seterusnya sampai proses penumpukan selesai. 
  • Tumpukan kemudian ditutup rapat dengan menggunakan plastik atau bahan kedap udara dan tidak rembes air lalu diberikan beban diatasnya dengan menggunakan ban bekas atau karung berisi pasir 
  • Selama proses fermentasi tumpukan tidak perlu dibalik dan lindungi dari hujan dan sinar matahari langsung 
  • Proses pembuatan silase akan selesai 21 hari setelah proses penutupan. 
 2.  Tahap pengeringan

  • Tumpukan silase yang telah mengalami proses fermentasi, dikeringkan disinar matahari dan diangin-anginkan sehingga cukup kering sebelum disimpan pada gudang penyimpanan 
  • Setelah kering silase jerami jagung dapat diberikan pada sapi sebagai pakan substitusi rumput segar 
Ciri-ciri Silase Yang Baik 

Silase jagung berkualitas baik bila proses pembuatan dilakukan secara tepat dan benar. Ciri-ciri silase yang baik adalah :
  • Berbau harum agak kemanis-manisan 
  • Tidak berjamur 
  • Tidak menggumpal 
  • Berwarna kehijau-hijauan 
  • pH berkisar antara 4 sampai 4,5 
Keunggulan 

1. Mempunyai daya tahan simpan 
2. Menghemat waktu penyediaan hijauan makanan ternak 
3. Mengurangi polusi 
4. Disukai ternak 

Hak Cipta © 2011 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
Jl. Padang-Solok Km 40, Sukarami, kabupaten Solok, Sumatera Barat, Indonesia
Telp. (0755) 21054, 31122 fax. (0755) 31138   e-mail: sumbar_bptp@yahoo.com

Kamis, 15 Desember 2011

SAPI BISA MENINGKATKAN TARAF HIDUP MASYRAKAT

Sapi Perah Untuk Mengentas Kemiskinan
Syamsul Hadi | Robert Adhi Ksp | Kamis, 15 Desember 2011 | 22:12 WIB

|
Share:
KOMPAS/HERU SRI KUMOR ILustrasi sapi perah
JEMBER, KOMPAS.com - Untuk mengurangi jumlah keluarga miskin yang banyak tersebar di daerah perkebunan, Pemerintah Kabupaten Jember mengajak PTPN XII dan Bank Indonesia memberdayakan masyarakat melalui program sapi perah. Untuk itu, Bank Indonesia Jember masih akan mencari pola yang cocok untuk penyaluran sapi perah kepada keluarga kurang mampu.

Sebab jumlah keluarga miskin di Jember sampai saat ini tergolong nomer tiga paling banyak di antara daerah kabupaten dan kota se Jawa T imur. Untuk itu, perlu pola untuk mengentas kemiskinan melalui bantuan atau program kemitraan antara antara pemerintah daerah, PTPN dan Bank Indonesia.

Hal ini diungkapkan Bupati Jember MZA Djalal kepada wartawan di Jember, Jawa Timur, Kamis (15/12/2011). "BI punya litbang yang juga berpartisipasi dengan kebijakan-kebijakan mikronya, melalui kajian sampai pada perencanaan bisnisnya," kata Djalal.

"Selama ini program pengentasan keluarga miskin banyak melalui bantuan ternak untuk penggemukan, ternyata banyak yang gagal karena banyak yang dijual. Ini berbeda kalau peternak memperoleh bantuan modal atau hibah dalam bentuk peningkatan produksi susu," kata MZA Djalal.

Sementara itu, julah rumah tangga miskin di Jember yang dapat bantuan raskin sebanyak 273.700 kepala keluarga. Ini kalau tidak diatasi secara nyata dengan pemberdayaan ekonmi kerakyatan, mereka akan terus terpuruk dan tak berdaya.

"Kami di sini punya potensi alam sangat memadai untuk pengembangan sapi perah. Ini bisa kerja sama dengan perusahaan susu Nestle atau Dancow. Pemda Jember siap jadi penjamin untuik mendapatkan kredit bagi peternak yang sungguh-sunggu, kalau PTPN dan BI ikut terlibat, maka beban pemda kan jadi ringan," kata Djalal.

Pemimpin Bank Indonesia Jember Pimpinan Bank Indonesia Jember Nur Zaenuddin mengaku, siap membantu untuk pengentasan kemiskinan dengan program pengembangan sapi perah.
"Kami sedang upayakan untuik membuat proposal mengenai pengentasan kemiskinan dengan program pengembangan sapi perah," kata Nur Zaenuddin

Senin, 12 Desember 2011

HARGA DAGING SAPI NAIK 20%

KONTAN/MURADI Ilustrasi
LANGKAT, KOMPAS.com — Harga daging sapi di pasar Stabat, Tanjungpura, Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, mengalami kenaikan Rp 10.000 per kilogram, dari semula Rp 70.000 per kilogram menjadi Rp 80.000 per kilogram.
"Daging sapi naik hari ini, dari Rp 70.000 menjadi Rp 80.000 per kilogramnya. Harga ini terus mengalami kenaikan hingga besok pagi," kata salah seorang pedagang daging sapi, Adril Husni Lubis, di Stabat, Minggu (28/8/2011).
Ia mengatakan, jumlah permintaan daging sapi juga mengalami lonjakan tiga kali lipat dibandingkan hari-hari biasanya. Jumlah permintaan daging juga terus mengalami kenaikan karena masyarakat saat Lebaran ingin menyuguhkan makanan yang istimewa.
"Jumlah permintaan daging hari biasa sebanyak 50 kilogram, menjelang Lebaran ini permintaan meningkat menjadi 150 kilogram per hari. Permintaan ini belum termasuk jumlah pesanan," katanya.
Sementara pedagang daging ayam potong di Pasar Stabat, Nardi, mengatakan, daging ayam potong sudah mencapai Rp 28.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 26.000 per kilogram.
"Harga daging ayam potong terus mengalami kenaikan yang biasanya Rp 26.000 per kilogram, sejak Minggu naik Rp 2.000 menjadi Rp 28.000 per kilogram," katanya.
Menurut dia, harga daging ayam akan terus mengalami kenaikan hingga H-1 Lebaran. Diperkirakan harga daging ayam akan mencapai Rp 30.000 per kilogram.
"Jumlah permintaan daging ayam terus meningkat. Biasanya setiap harinya sebanyak 50 kilogram, sekarang mencapai 100 kilogram setiap hari. Kenaikan permintaan tersebut belum termasuk dengan permintaan pesanan," katanya.
Nardi juga menjelaskan, daging ayam kampung juga mengalami dari Rp 48.000 per kilogram menjadi Rp 50.000 per kilogram. Ada kenaikan sebesar Rp 2.000 per kilogram untuk daging ayam kampung.
"Harga daging ayam kampung juga akan terus mengalami kenaikan hingga Lebaran. Jika permintaan sangat banyak, harga daging ayam kampung bisa mencapai Rp 60.000 per kilogram satu hari menjelang Lebaran," katanya.
Sementara itu, seorang pembeli, ibu Nasbah Mufida, menjelaskan bahwa harga-harga yang mulai bergerak naik tidak hanya daging sapi, ayam ras, ataupun ayam kampong, tetapi juga sayur-mayur. "Kenaikan harga juga terjadi pada sayur-mayur, seperti kentang, tomat, wortel, dan juga bawang merah," katanya.
Sumber :
ANT
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini.
     
 

Kamis, 01 Desember 2011

BUDIDAYA RUMPUT GAJAH

RUMPUT GAJAH

Sebuah informasi yang semoga bermanfaat bagi para pembaca Blog sekalian: RUMPUT GAJAH. Selain mengandalkan pasokan rumput dari masyarakat sekitar, lahan yang ada di Villa Domba tetap juga berupaya dimanfaatkan sebagai area tanam berbagai macam jenis varietas rumput yang antara lain adalah Rumput Gajah (Pennisetum pupureum):


Tampak gambar di atas adalah lahan Rumput Gajah di Villa Domba yang juga diikuti dengan penanaman pohon Mahoni dan pohon Jati. Awalnya dahulu lahan ini tandus dan tidak termanfaatkan. Bersumber dari web.http://gasibu.wordpress.com/: Salah satu jenis tanaman penutup tanah adalah rumput. Rumput biasanya merupakan jenis tanaman penutup yang terakhir ditanam. Seberapa pun sisa lahan, bila ditanami rumput akan memberi kesan luas dan menyejukkan. Namun, untuk menanam tanaman ini harus memastikan apakah lahan tersebut memperoleh sinar matahari selama 6–8 jam sehari. Karena hampir semua jenis rumput membutuhkan sinar matahari. Hamparan rumput sebagai elemen pembentuk bidang areal terbuka mampu mendatangkan kegairahan sekaligus kegembiraan orang yang berada di areal tersebut. Sebelum menanam jenis rumput yang cocok untuk hunian kita, sebaiknya disesuaikan dengan kondisi lahan dan lingkungan sekitar.”Karena tidak semua jenis rumput cocok untuk semua tempat,” kata Nirwono Yoga, arsitek dan konsultan eksterior dan interior. Jenis rumput terbagi dalam tiga kelas, yakni murah, sedang,dan mahal. Kelas murah dikenal dengan jenis rumput gajah. Rumput ini paling bandel karena selain mudah pengerjaannya juga mudah dalam pemeliharaannya. Bersumber dari web.http://www.astudio.id.or.id/: Rumput Gajah sangat mudah perawatannya dan 'tahan banting' karena bandel dan tidak mudah mati. Cara menanamnya pun cukup mudah, yaitu dengan menempelkannya pada tanah, yang sebelumnya sudah dibersihkan, digemburkan dan diberi pupuk.

Tampak pada gambar di atas salah satu pekerja senior di Villa Domba sedang menyiapkan bibit Rumput Gajah. Bibit rumput diperoleh dari hasil stek rumput yang sudah dipanen sebelumnya. Informasi menarik dari web. http://manglayang.blogsome.com/: Rumput gajah merupakan tumbuhan yang memerlukan hari dengan waktu siang yang pendek, dengan fotoperiode kritis antara 13-12 jam. Namun kelangsungan hidup serbuk sari sangat kurang sehingga menjadi penyebab utama dari penentuan biji yang lazimnya buruk. Disamping itu, kecambahnya lemah dan lambat. Oleh karenanya rumput ini secara umum ditanam dan diperbanyak secara vegetatif. Bila ditanam pada kondisi yang baik, bibit vegetatif tumbuh dengan cepat dan dapat mencapai ketinggian sampai 2-3 meter dalam waktu 2 bulan. Rumput gajah ditanam pada lingkungan hawa panas yang lembab, tetapi tahan terhadap musim panas yang cukup tinggi dan dapat tumbuh dalam keadaan yang tidak seberapa dingin. Rumput ini juga dapat tumbuh dan beradaptasi pada berbagai macam tanah meskipun hasilnya akan berbeda. Akan tetapi rumput ini tidak tahan hidup di daerah hujan yang terus menerus. Secara alamiah rumput ini dapat dijumpai terutama di sepanjang pinggiran hutan. Perkembang biakan vegetatif dilakukan baik dengan cara membagi rumpun akar dan bonggol maupun dengan stek batang (minimal 3 ruas, 2 ruas terbenam di tanah). Hal ini dapat dilakukan dengan tangan atau dengan peralatan seperti yang dilakukan pada penanaman tebu. Jarak antar barisan berkisar antara 50 – 200 cm. di daerah yang lebih kering jaraknya lebih lebar. Jarak dalam barisan bervariasi mulai dari 50 – 100 cm. penanaman yang dicampur dengan tanaman lain semisal ubi kayu dan pisang sering dilakukan di kebun rumah. Untuk mendapatkan hasil dan ketahanan tinggi, rumput ini ditanam dengan pengairan yang teratur dan pemupukan yang cukup. Pemupukan yang banyak diterapkan biasanya bila rumput sering dipotong / dipanen. Kandungan nutrien setiap ton bahan kering adalah N:10-30 kg; P:2-3 kg; K:30-50 kg; Ca:3-6 kg; Mg dan S:2-3 kg. dengan hasil bahan kering tiap tahun 20-40 ton/Ha, karenanya banyak zat diserap dari tanah. Jika tidak dipupuk hasilnya akan segera menurun drastis dan gulma akan menyerang. Walaupun rumput gajah jarang ditanam dengan polong-polongan (legume), namun tetap dapat dikombinasikan dengan baik. Penyakit yang biasa menyerang yaitu kutu Helminthosporium sacchari. Tindakan yang paling baik untuk mencegahnya adalah dengan menggunakan kultivar yang tahan penyakit tersebut. Namun demikian secara umum kami tidak menemukan serangan hama pada rumput gajah yang ditanam. Kebanyakan hanya merupakan serangan belalang dan ulat yang masih bisa di tolerir. Rumput gajah dapat dipanen sepanjang tahun. Biasanya rumput ini diberikan dalam bentuk segar, tetapi dapat juga diawetkan sebagai silase. Hasil bahan kering setiap tahun diharapkan berkisar 2 - 10 ton/hektar untuk tanaman yang tidak dipupuk atau dengan pupuk yang sedikit, tetapi yang menggunakan banyak pupuk N dan P hasilnya berkisar antara 6 - 40 ton/hektar. Prospek rumput gajah cukup baik bila dilakukan pemupukan yang baik pula. Dengan memanen pada pertumbuhan yang masih muda atau dengan menggunakan kultivar yang baik akan mencapai nilai pakan yang tinggi. Keuntungan dari jenis ini adalah kemampuannya berproduksi, dapat ditanam dalam jumlah besar atau kecil, dan dapat diusahakan secara mekanis atau juga untuk pertanian/peternakan skala kecil.

Selasa, 22 November 2011


Sejatinya semua jenis ras sapi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Yang perlu diperhatikan adalah nilai-nilai praktis dan ekonomis dari jenis ras tersebut baik dari sisi kekuatan finansial peternak, peruntukannya, dan waktu tepat penjualannya. Untuk penambahan berat harian jenis sapi limosin mampu mencapai 1,3 – 2 Kg/hari. Namun, yang terpenting adalah penampakan fisik sapi terlihat bagus dan sehat. Berikut jenis-jenis sapi yang dapat diternakan sebagai penghasil daging.
1. Sapi Bali
Sapi bali merupakan salah satu jenis sapi asal Indonesia yang mempunyai potensi untuk dikembangkan. Sapi bali mudah beradaptasi dengan lingkungan baru sehingga sering disebut sebagai ternak perintis. Sapi ini paling banyak diminati oleh peternak Indonesia karena memiliki beberapa keunggulan, yaitu : efisien dalam memanfaatkan sumper pakan, persentase karkas tinggi, dagingnya rendah lemak, tingkat kesuburan cukup tinggi (bisa beranak setiap tahun), tipe pekerja yang baik, dan mudah berdaptasi terhadap lingkungan.
Ciri-ciri sapi bali yaitu bulu berwarna merah bata, pada jantan akan menjadi hitam saat dewasa, ada warna putih mulai dari kaki paling bawah hingga belakang paha, pinggiran bibir atas, kaki, mempunyai gumba yang bentuknya khas serta terdapat garis hitam yang jelas di bagian atas punggung.
Kenaikan bobot badan sapi bali per harinya 0,35 – 0,66 Kg. Dengan manajemen pemeliharaan yang baik, pertambahan berat badan harian sapi bali bisa lebih besar dari 0,7 Kg/hari. Adapun persentase karkas berkisar 56 – 57%. Perbandingan daging dengan tulangnya adalah 4.44 : 1 Bobot sapi jantan dewasa dapat mencapai 375 – 400 Kg, sedangkan sapi betina dewasa berkisar 275 – 300 kg.
2. Sapi Ongole dan Peranakan Ongole (PO)
Sapi ongole merupakan keturunan sapi zebu dari India yang mulai diternakan secara murni di pulau Sumba, sehingga dikenal dengan nama sapi “Sumba” ongole. Ciri-ciri sapi ongole antara lain berpunuk besar, memiliki lipatan kulit di bawah leher dan perut, telinga panjang dan menggantung, kepala relatif pendek dengan posisi melengkung, mata besar menunjukkan ketenangan, serta bulunya berwarna putih.
Hasil persilangan sapi ongole dengan sapi lokal Indonesia (sapi Jawa) menghasilkan sapi yang mirip dengan sapi ongole dan dikenal dengan nama  sapi PO (peranakan ongole). Sapi PO murni sudah sulit ditemukan, karena telah banyak disilangkan dengan sapi brahman. Ukuran tubuh sapi PO lebih kecil dibandingkan dengan sapi ongole. Punuk dan gelambir juga kelihatan lebih kecil atau sangat sedikit. Warna bulunya bervariasi, tetapi kebanyakan berwarna putih atau putih keabu-abuan. Sapi PO terkenal sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja, mampu beradaptasi terhadap berbagai kondisi lingkungan, dan cepat bereproduksi.
Tinggi sapi ongole jantan berkisar 150 cm dengan berat badan mencapai 600 Kg. Sementara itu, sapi betina memiliki tinggi badan berkisar 135 cm dan berat badan 450 Kg. Pertambahan bobot badan sapi ongole dapat mencapai 0,9 Kg per hari dengan kualitas karkas mencapai 45 – 58%. Rasio daging dengan tulangnya adalah 1 : 423, sapi ongole termasuk lambat untuk mencapai dewasa, yaitu sekitar umur 4 – 5 tahun. Untuk sapi PO, bobot badan rataan sekitar 200 – 350 kg dengan pertambahan bobot badan 0,6 – 0,8 Kg per hari jika dipelihara dengan baik.
3. Sapi Brahman
Merupakan sapi keturunan zebu atau nellore (Bos Indicus) yang telah berkembang pesat di Amerika Serikat dengan iklim tropis. Di negara tersebut, sapi brahman diseleksi dan ditingkatkan mutu genetiknya. Sapi brahman mempunyai ciri berpunuk besar, kulitnya longgar, gelambir dari bawah leher sampai perut dengan banyak lipatan, telinga panjang menggantung dengan ujung runcing,  serta bulunya berwarna abu-abu (ada yang berwarna merah kecoklatan).
Sapi brahman termasuk tipe sapi potong terbaik di daerah tropis karena tahan terhadap panas, serta resisten terhadap demam texas, gigitan caplak, dan nyamuk. Sapi brahman juga tidak terlalu selektif terhadap pakan yang diberikan. Bobot maksimun sapi brahman jantan dewasa mencapai 800 Kg, sedangkan sapi betina 550 Kg. Presentase karkas yang dihasilkan sapi ini 48,6 – 54,2%. Dengan pemeliharaan yang intensif, pertambahan berat badan sapi jantan dan betina brahman dewasa mencapai 0,83 – 1,5 kg per hari.
4. Sapi Madura
Sapi madura sangat terkenal dengan sebutan sapi karapan. Sapi ini merupakan hasil persilangan antara sapi jenis Bos indicus (zebu) dengan sapi jenis Bos sundaicus. Pada tubuh sapi madura masih terdapat tanda-tanda sebagai warisan dari kedua golongan sapi tersebut. Sapi madura merupakan tipe sapi penghasil daging dan tenaga kerja. Selain terdapat di Pulau Madura dan Jawa Timur, sapi ini juga menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Sapi madura merupakan tipe sapi potong yang cukup baik. Hal ini ditunjukkan dengan badan yang lebar, daging tebal, dan berkaki pendek. Selain itu, kualitas dagingnya lebih baik dan warnanya pun lebih menarik dibandingkan dengan daging sapi ongole dan sapi bali. Bobot sapi madura jantan 275 – 300 Kg dan sapi betina dewasa 180 – 250 Kg. Pertambahan bobot badan rata-rata mencapai 0,25 – 0,6 Kg per hari. Sementara itu, persentase karkas 48 – 63 % dan perbandingan daging dengan tulang 5,84 : 1
5. Sapi Limpo (Limousin PO)
Merupakan sapi bangsa Bos taurus yang dikembangkan pertama kali di Prancis. Sapi ini merupakan tipe sapi pedaging. Secara genetik, sapi limousin adalah sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin, bertipe besar, mempunyai volume rumen yang besar, mampu menambah konsumsi lebih tinggi di luar kebutuhan yang sebenarnya, serta memiliki metabolisme yang cepat sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan yang lebih teratur.
Sapi limousin murni sulit ditemukan di Indonesia karena telah mengalami persilangan dengan sapi lokal. Kebanyakan sapi limousin yang ada di Indonesia adalah limousin cross yang telah disilangkan dengan sapi lokal. Persilangan sapi limousin dengan sapi ongole dikenal dengan nama sapi limousin ongole (limpo). Sapi limpo memiliki ciri tidak berpunuk dan tidak bergelambir, serta warna bulunya hanya cokelat tua kehitaman dan cokelat muda.
6. Sapi Simmental
Adalah sapi yang berasal dari bangsa Bos taurus. Sapi ini berasal dari daerah Simme di Switzerland. Namun, sapi ini berkembang lebih cepat di Benua Eropa dan Amerika. Sapi simmental merupakan tipe sapi perah dan pedaging. Warna bulunya cokelat kemerahan (merah bata), di bagian wajah dan lutut ke bawah sampai ujung ekor berwarna putih. Sapi simmental jantan dewasa mampu mencapai berat badan sekitar 1.150 Kg, sedangkan sapi betina dewasa mampu mencapai berat badan sekitar 800 kg.
Sapi simmental murni sulit ditemukan di Indonesia karena simmental jantan yang diimpor telah sering mengalami persilangan dengan sapi betina lokal. Kebanyakan sapi simmental yang ada di Indonesia adalah simmental cross. Salah satunya persilangan sapi simmental  dengan sapi ongole dikenal dengan nama sapi simmental ongole (simpo). Sapi simpo tidak memiliki gelambir dan bulunya berwarna merah bata, merah tua atau cokelat muda hingga putih kekuningan dan doreng. Ciri khas sapi simpo adalah ada warna bulu putih berbentuk segitiga diantara kedua tanduknya.
7. Sapi Frisian Holstein (FH)
Sapi jeni ini biasa dipelihara dengan tujuan untukk diambil susunya. Sapi ini merupakan sapi introduksi dari negeri Belanda. Warna belang hitam dan putih dengan segitiga putih di bagian berpunuk. Pertambahan berat badan sapi ini cukup tinggi, yakni mencapai 1,1 Kg per hari. Karena itu, sapi jantannya sering dipelihara untuk digemukkan dan dijadikan sapi potong.

Senin, 14 November 2011

SAPI TERBESAR DIDUNIA

Sapi terbesar di dunia dan di Indonesia 26 November 2009

Posted by masbloro in Artikel Umum.
Tags:
trackback
Ngomongin kurban tak bisa lepas dari sapi dan kambing. Seberapa besar sih sapi yang pernah ada di muka bumi ini?
Chilli adalah sapi jantan jenis FH terbesar di dunia dengan berat lebih dari 1 ton dan tingginya hampir mencapai 2 meter (+/- 197 cm) atau hampir sama dengan ukuran sebuah gajah kecil.
Sapi FH memang salah satu jenis sapi perah yang unggul dalam menghasilkan susu. Sapi FH terkenal dengan produksi susunya yang tinggi, bisa mencapai lebih dari 6350 kg/tahun dengan persentase kadar lemak susu 3-7%.
Bibit sapi FH yang unggul menjadi sangat penting karena akan menentukan hasil produksi susu di masa yang akan datang. Seekor sapi perah dara yang akan dijadian bibit unggul calon induk sebaiknya berasal dari induk dan pejantan yang menghasilkan produksi susu tinggi.
Bisa anda bayangkan bila semua ukuran sapi bisa dibuat sebesar ini maka satu sapi bisa untuk makan 1 kelurahan atau bahkan kabupaten.
Di Indonesia seekor sapi seberat 1,2 ton diklaim sebagai hewan kurban terberat di Indonesia akan disembelih pada Idul Adha 10 Dzulhijjah 1430 mendatang.
John Eric Kamadjaja, Direktur PT Agro Fauna Kertosari (AFK), perusahaan agribisnis sapi potong yang mengelola lebih dari seribu ekor sapi di Desa Kertosari mengatakan sapi ‘raksasa’ yang akan disembelih pada Idul Adha mendatang adalah maskot dari peternakan sapi potong AFK selama ini.
Rencananya, penyembelihan sapi ‘raksasa; ini akan dicatatkan di Museum Rekor Indonesia sebagai ‘Sapi kurban terberat’ di Indonesia.
sumber : duniasapi.com, solocybercity dan otakku.com

Sabtu, 12 November 2011

SAPI DI DEWAKAN DI NEGARA HINDIA

India � Negara yang Berkomitmen
Melindungi Sapi-sapi Suci
♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Oleh Grup Berita Singapura (Asal dalam bahasa Inggris)  
Surga Spiritual yang indah - India adalah rumah dari seperempat dari populasi sapi di dunia. Hewan yang dipuja ini diperkirakan berjumlah antara 200-400 juta, dan dipercaya sangat suci dan setara dengan kehidupan manusia dalam kitab suci Agama Hindu. Faktanya, sapi dianggap sebagai lambang kelimpahan, kesucian, dan sebagai �ibu kedua� manusia, karena mereka terus melayani umat manusia dengan tanpa pamrih. Dengan populasi Agama Hindu sebesar 82%, maka tidak mengherankan jika sapi yang rendah hati dan pemberi hidup bagi manusia ini sangat dihargai serta dihormati di India.

Nyatanya, sebagai sebuah Bangsa, India berkomitmen dalam hal perlindungan terhadap sapi. Kehidupan sapi secara sah dilindungi di seluruh daerah minoritas India di 28 negara bagian serta tercatat dalam Aksi Pencegahan Kekejaman terhadap Tindakan Binatang(PCA) 1960. Membunuh sapi bahkan dilarang dalam konstitusi nasional. Artikel 48 negara bagian: �Negara bagian mencoba atau megatur pertanian dan peternakan dengan kecanggihan ilmiah, khususnya mengambil langkah-langkah pemeliharaan, meningkatkan pengembangbiakan, serta melarang pembunuhan sapi, anak sapi, maupun pemberi susu lainnya saat terjadi kekeringan di peternakan.�
�Artikel 51 A(g) secara sah mengatakan: �Ini merupakan kewajiban mendasar dari setiap penduduk India untuk melindungi serta meningkatkan lingkungan alam termasuk hutan, danau, sungai, dan kehidupan liar lainnya untuk memberikan kasih sayang kepada semua makhluk hidup.� 
Belakangan ini, pejabat terhormat India meningkatkan perlindungan sapi dengan menegakkan undang-undang yang telah ada melalui kebijaksanaan ketat serta mengajukan hukum baru yang diperlukan.
Untuk menyampaikan rasa hormat Maha Guru Ching Hai kepada mereka yang melindungi nyawa dari hewan-hewan suci ini, Guru kita yang tercinta memberi Penghargaan Cinta Kasih Cemerlang Dunia dan Penghargaan Kepemimpinan Cemerlang Dunia. Semoga Tuhan Yang Maha Tinggi terus memberkati India, dan semoga ada lebih banyak Negara yang menemukan kebijaksanaan dan tercerahkan untuk melindungi para sapi yang sangat cantik dan penuh kedamaian.