Rabu, 14 Agustus 2013

HARGA DAGING SAPI

Jelang Lebaran, Harga Daging Sapi di Bandung Sudah Merosot

Baban Gandapurnama - detikfinance
Senin, 29/07/2013 09:54 WIB
http://images.detik.com/content/2013/07/29/4/095606_saphi2.jpg
Bandung - Jelang lebaran Idul Fitri 2013, harga komoditas daging sapi di Kota Bandung sudah kembali merosot alias turun. Harga daging sapi di pasar tradisional sempat tak terkendali dengan menembus angka Rp 100 ribu per kilogram.

"Sejak sepekan lalu harga daging sapi di Bandung mulai turun," kata salah satu pedagang di Pasar Induk Caringin Kota Bandung, Ahmad Nurjaman (36).

Ahmad menyampaikannya saat ditemui detikFinance di Rumah Potong Hewan (RPH) Cirangrang, Jalan Kopo, Kota Bandung, Senin (29/7/2013). Pria tersebut menjual daging sapi impor jenis sapi Brahman Cross (BX).

Pebisnis daging sapi ini mengaku girang dengan kondisi harga sapi saat ini. Sewaktu harga sapi melonjak tinggi, pria akrab disap Haji Totong ini menjual daging sapi BX kepada konsumen dengan banderol Rp 90 ribu hingga Rp 100 ribu per kilogram. Bahkan di beberapa pasar tradisional di Bandung, selisih angkanya bisa lebih.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar pernah menyebutkan harga daging sapi termahal di Jabar itu berada di wilayah Kota Bandung. Tercatat harga daging sapi meroket hingga Rp 105 ribu per kilogram. Melambungnya daging sapi di Bandung beberapa waktu lalu itu disebut tertinggi dibandingkan lima kota lainnya di Jabar yakni Depok, Bogor, Sukabumi, Tasikmalaya, dan Cirebon.

"Kalau sekarang, paha sapi belakang saya jual 80 ribu rupiah per kilogram. Kalau paha depan harganya 73 hingga 75 ribu rupiah per kilogram," ungkap Ahmad yang sejak 2003 melakoni bisnis daging sapi di Pasar Caringin.

Daging sapi dijual Ahmad di Pasar Caringin ini biasanya didistribusikan kembali oleh pedagang lainnya serta pengecer ke pasar-pasar tradisional di Bandung Raya seperti Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat.

Adanya kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan (Kemendag) soal menambah kuota sapi impor, kata Ahmad, berpengaruh menurunkan harga daging di pasaran. Kondisi demikian membuat pengusaha penggemukan sapi (feedloter) menurunkan harga jual sapi hidup kepada pedagang. Feedloter kini membanderol sapi hidup seharga Rp 33 ribu per kilogram dari semula Rp 36 ribu per kilogram.

Pengecer daging sapi lokal di Pasar Cikutra, Yayat (32), mengakui dampak harga sapi impor turun itu berimbas kepada bisnisnya. "Turunnya daging sapi impor, otomatis daging sapi lokal pun ikut turun. Ya harus mengikuti. Sekarang harga sapi lokal itu menyesuaikan. Harganya kini kisaran 75 ribu hingga 85 ribu rupiah," singkat Yayat ditemui di Pasar Cikutra.

Salah satu perusahaan feedloter, PT Lembu Jantan Perkasa, tidak membantah soal turunnya harga sapi hidup yang dijual kepada pedagang.

"Perusahaan feedloter yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Sapi dan Feedloter Indonesia (Apfindo), bersepakat menurunkan harga sapi hidup," ucap General Manager PT Lembu Jantan Perkasa, Said Zulvalutvy, sewaktu ditemui detikcom di kantor PT Lembu Jantan Perkasa, Jalan Mileter KM-01, Desa Darangdan, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Senin (29/7/2013).

Said mengungkapkan, sejak Jumat 19 Juli 2013 lalu feedloter melego sapi hidup seharga Rp 33 ribu per kilogram dari semula Rp 36 ribu per kilogram. Sapi impor yang dijual PT Lembu Jantan Perkasa asal Australia berjenis sapi BX. Imbasnya, harga jual daging sapi di pasar tradisonal pun merosot tajam.

"Poin pentingnya saat ini harga daging sapi di Bandung turun drastis. Bandung ini menjadi tolak ukur. Kenapa harganya terjun bebas? Karena suplai yang diminta pedagang sudah cukup terpenuhi. Kalau suplai cukup, tentu yang diuntungkan juga ialah konsumen," tutur Said.

"Jadi keiinginan pemerintah saat ini untuk menurunkan harga sapi itu tercapai," tambahnya.

Said berpandangan kenaikan harga sapi di sejumlah wilayah Indonesia khususnya Bandung, beberapa waktu lalu, lantaran disebabkan kuota sapi tidak terpenuhi. Terlebih sewaktu Kementerian Pertanian (Kementan) menekankan pembatasan kuota sapi impor hanya 10 persen. Ia pun menyarankan perlu pengecekan angka ril soal populasi sapi lokal di Indonesia saat ini.

"Sapi itu 'kan bahan baku. Karena waktu itu bahan bakunya tidak ada di pasaran, terjadilah gejolak yang menjadikan harga tak sesuai di pasaran. Nah, karena permintaannya tinggi, harga pun pasti naik. Jadi kenaikan itu bukan karena ulah spekulan serta penimbunan. Kondisinya waktu itu, di peternak memang kandangnya kosong. Petani pun tidak mau mengeluarkan sapi karena belum cukup umur," kata Said.

Sambung Said, perusahaan feedloter menyambut baik setelah urusan tata niaga impor diambil alih Kementerian Perdagangan (Kemendag). Apalagi Kemendag siap menambah kuota impor sapi. Pemerintah beralasan dengan adanya penambahan pasokan dan distribusi bisa menurunkan harga daging.



(bbn/dru) 

Selasa, 14 Mei 2013

Mentan Minta Australia Realisasikan Investasi Peternakan Sapi


13 Mei 2013 | 21:22 wib
Mentan Minta Australia Realisasikan Investasi Peternakan Sapi
 0
 
 0
image
BERTEMU: Mentan Suswono menerima dua menteri negara bagian Australia. (suaramerdeka.com/Marlin)
JAKARTA, suaramerdeka.com – Menteri Pertanian RI Suswono meminta pihak Australia segera merealisasikan investasi di bidang peternakan sapi di Indonesia, sebagaimana yang telah disepakati antara kedua negara beberapa waktu lalu.
Mentan Suswono menyampaikan hal itu ketika menerima dua menteri negara bagian Australia, masing-masing Menteri Industri Utama dan Perikanan Negara Bagian Northern Teritory Willem Westra van Holthe dan Menteri Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Negara Bagian Queensland Jonh McVeight, Senin (13/5) di Kementerian Pertanian, Jakarta.
"Kami sangat menunggu realisasi dari investasi yang sudah dijanjikan," kata Mentan Suswono.
Mentan Suswono mengatakan, investasi pembibitan sapi di Indonesia akan sangat menguntungkan. Mengingat konsumsi daging masyarakat Indonesia masih rendah. Yakni hanya 2,2 kg per kapita per tahun.
Ke depan, lanjut Mentan, jumlah konsumsi per kapita akan meningkat seiring dengan meningkatnya perekonomian masyarakat Indonesia. Dengan begitu Australia tidak tergantung dengan kuota impor dari Indonesia. Sebaliknya Indonesia pun tidak tergantung dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan daging di dalam negeri.
Menanggapi permintaan Mentan Suswono itu, baik Willem Westra maupun Jonnh McVeight menyatakan akan menyampaikan hal ini kepada pemerintah mereka.
Kedatangan delegasi menteri dari dua negara bagian Australia itu untuk mengajak Indonesia meningkatkan kerjasama dalam bidang peternakan sapi. Pertemuan yang juga dihadiri Duta Besar Australia untuk Indonesia Greg Moriarty, ini juga membicarakan mengenai kerjasama dalam bidang riset dan teknologi pembibitan sapi.
Dalam kesempatan itu Willem Westra juga sempat menanyakan soal rencana penarikan jadwal impor sapi periode Juli-September menjadi Juni-Agustus. Mentan membenarkan rencana itu. Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan daging sapi jelang hari raya lebaran, yang selalu meningkat.
Mendengar keterangan Mentan tersebut, Willem mengaku senang. "Para pengusaha sapi dan daging sapi di Australia, saya yakin senang mendengar hal ini," imbuh Willem.

Sabtu, 27 April 2013

PENAIKAN HARGA SAPI DI PASARAN

Dikirim ke Jawa Barat dan Jakarta

Harga Sapi Naik, Tengkulak Luar Daerah Serbu Pasar Hewan Bojonegoro

Editor: | Senin, 25 Februari 2013 14:51 WIB, 61 hari yang lalu

 0Google +0 0 0

Harga Sapi Naik, Tengkulak Luar Daerah Serbu Pasar 
Hewan Bojonegoro - Dikirim ke Jawa Barat dan Jakarta - Sapi potongSapi potong(Foto: Istimewa)

LENSAINDONESIA.COM: Hingga saat ini harga sapi di wilayah Bojonegoro, Jawa Timur terus mengalami kenaikan. Hal terjadi akiat imbas banyaknya sapi dari Bojonegoro yang di borong para pedagang luar daerah untuk di kirim ke Jawa Barat dan Jakarta.
Pantauan LICOM di Pasar Hewan Bojonegoro, saat ini harganya sapi dewasa mencapai Rp 13 hingga 16 juta per ekor. Pada hal beberapa bulan lalu, harganya sapi ukuran besar dan sedang (dewasa) berkisar antara Rp 12 hingga 15 juta per ekornya.
Menurut pedagang, para tengkulak memburu hewan ternak jenis ini di Bojonegoro karena harganya masih rendah di banding dengan kota-kota.
“Kabarnya harga sapi di daerah lain jauh lebih tinggi. Akhirnya para tengkulak yang ingin mendapat untung jadi lari ke sini,” ujar Karmani tengkulak asal Blora, Jateng yang setiap pasaran sapi selalu memborong sapi di Bojonegoro, Senin (25/02/2013).
Akibat banyak tengkulak yang datang ke Bojonegoro ini, lanjur Karmani, secara tidak langsung, para pedagang sapi di pasar hewan juga mulai menaikan harga.
“Setiap pekan saya membeli kurang lebih 5 hingga 10 sapi dari sini untuk dikirim ke Jakarta dan kota –kota besar di Jawa barat. Harga daging di sana tinggi sekali. Bakan hanya saya, para tengkulak juga pasti melilih sapi dengan harga yang murah,” katanya.
Tingginya harga sapi saat ini memang menjadi probelem para konsumen daging sapi. Namun hal demikian tidak dirasakan para peternak sapi lokal di Bojonegoro. Sebab, tingginya harga ini malah membuat mereka meraup untung yang lumayan besar.@hidayat

Jumat, 08 Februari 2013

TIPS BIBIT SAPI TERBAIK

Pembibitan Sapi Potong

Pembibitan Sapi Potong
pembibitan sapi
pembibitan sapi
Pengembangan pembibitan ternak sapi saat ini mulai diarahkan pada peningkatan mutu genetik ternak, sumber daya ternak, daya dukung wilayah, pengawasan mutu dan penguasaan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas ternak. Untuk mendapatkan bibit sapi potong yang berkualitas, perlu dilakukan pengawasan mutu bibit sesuai dengan standar pemilihan dan penilaian sapi potong. Seleksi atau pemilihan sapi yang akan dipelihara merupakan salah satu faktor penentu dan mempunyai nilai strategis dalam upaya mendukung terpenuhinya kebutuhan daging sehingga diperlukan upaya pengembangan pembibitan sapi potong secara berkelanjutan.
Kriteria Pemilihan
Pemilihan ternak sapi untuk dipelihara atau sebagai calon pengganti bibit memerlukan keterampilan khusus terutama untuk melatih pandangan serta penilaian
akurat. Keberhasilan pemilihan ternak sapi yang akan dipelihara akan sangat menentukan keberhasilan usaha ternak walaupun semua bangsa dan tipe sapi bisa
dijadikan bibit pengganti. Agar diperoleh bibit sapi potong yang baik, diperlukan bangsa dan tipe sapi tertentu yang laju pertumbuhannya cukup dan mutunyapun bagus serta mempunyai daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungannya. Sehubungan dengan pemilihan calon bibit ternak sapi potong, maka perlu mengetahui kriteria dalam aspek pemilihan bibit dan pengukuran sapi. Hal ini penting, mengingat pada saat peternak melakukan pemilihan diperlukan pengetahuan, pengalaman dan kecakapan yang cukup di antaranya adalah :
1. Bangsa dan sifat genetik
Setiap peternak yang akan memelihara dan membesarkan ternak untuk dijadikan calon bibit pertama-tama harus memilih bangsa sapi yang paling disukai atau telah populer, baik dari jenis sapi impor maupun lokal. Kita telah mengetahui bahwa setiap bangsa sapi memiliki sifat genetik yang berbeda antara satu dengan lainnya baik kemampuannya dalam berproduksi (menghasilkan daging) maupun daya adaptasinya terhadap lingkungan hidup terutama terhadap iklim dan pakan.
2. Kesehatan
Sapi yang akan dijadikan sebagai calon bibit haruslah memiliki kesehatan yang baik. Untuk mengetahui kesehatan sapi secara umum, peternak bisa memperhatikan kondisi tubuh (tubuh bulat berisi, tidak ada eksternal parasit); sikap dan tingkah laku (tegap,keempat kaki memperoleh titik berat sama); pernafasan (bernafas dengan tenang dan teratur); pencernaan (dapat memamahbiak dengan tenang, pembuangan feses dan urine berjalan lancar) dan pandangan sapi (mata cerah dan tajam).
3. Seleksi calon bibit berdasarkan pengamatan/penampilan fisik Bentuk atau ciri luar sapi berkorelasi positif terhadap faktor genetik seperti laju pertumbuhan, mutu dan hasil akhir (daging). Bentuk atau ciri bibit sapi potong yang baik adalah sebagai berikut :
  • (i) ukuran badan panjang dan dalam, rusuk tumbuh panjang yang memungkinkan sapi mampu menampung jumlah pakan yang banyak;
  • (ii) bentuk tubuh segi empat, pertumbuhan tubuh bagian depan, tengah dan belakang serasi serta garis badan bagian atas dan bawah sejajar;
  • (iii) paha sampai pergelangan penuh berisi daging;
  • (iv) dada lebar dan dalam serta menonjol ke depan serta
  • (v) kaki besar, pendek dan kokoh.
Pembibitan Sapi Potong “Model Grati”
Pembibitan sapi potong sebagian besar diusahakan oleh peternak dalam skala usaha kecil (1-4 ekor) sesuai dengan kemampuan modal dan tenaga kerja keluarga terutama dalam mencari pakan (rumput) sehingga belum memberikan peningkatan dan kesejahteraan petani dan keluarganya. Upaya untuk meningkatkan efisiensi usaha sapi potong skala kecil di peternakan rakyat diperlukan peningkatan skala usaha tani melalui inovasi teknologi pembibitan “Model Grati”. Pembibitan “Model Grati” merupakan suatu model pembibitan yang menggunakan kandang sistem kelompok, yaitu dalam suatu ruangan kandang ditempatkan beberapa ekor sapi induk/calon induk bersama dengan seekor pejantan yang diinginkan sehingga terjadi perkawinan dan menjadi bunting.
Melalui inovasi teknologi kandang kelompok “Model Grati” diharapkan
  • (i) jarak
    beranak (calving interval) sapi induk dapat diperpendek dari rataan 18 bulan menjadi 14 bulan,
  • (ii) efisiensi usaha pemeliharaan/tenaga kerja meningkat diikuti oleh peningkatan skala pemeliharaan dari rataan 1-4 ekor menjadi lebih dari 5 ekor per
    kepala keluarga (KK) dan
  • (iii) kesehatan ternak menjadi lebih baik.
Berdasarkan bentuk dan fungsinya, tipe kandang yang digunakan untuk pembibitan sapi potong “Model Grati” dibedakan menjadi dua, yaitu kandang kelompok dan kandang individu. Kandang kelompok berfungsi sebagai kandang kawin, pembesaran pedet sampai dengan disapih dan pembesaran pedet lepas sapih. Sedangkan kandang individu digunakan sebagai kandang untuk melahirkan (menjelang beranak) sampai dengan laktasi umur 40 hari.
Di samping kedua jenis kandang di atas, terdapat juga kandang kelompok khusus sapi bunting. Kandang ini digunakan untuk sapi yang positif bunting lebih dari 5 bulan sampai kebuntingan 9 bulan.
Sapi bunting tua dapat dideteksi melalui bentuk ambingnya yang mulai membesar sehingga harus segera dipindahkan dari kandang kelompokbunting ke kandang beranak (kandang individu) sampai dengan anak umur 40 hari. Namun apabila kandang kelompok bunting tidak tersedia, maka induk sapi yang telah bunting tua (8-9 bulan) dipisah dari kandang kelompok ke kandang individu (kandang beranak). Selanjutnya, induk yang sudah melahirkan dan pedet telah berumur 40 hari maka dari kandang beranak dipindah ke kandang kelompok kawin untuk melakukan proses reproduksi berikutnya (Gambar 1). Aplikasi kandang kelompok di petani dapat dilakukan dengan cara memperluas atau menambah pagar pembatas yang identik dengan kandang pelumbaran.
Untuk mendukung keberhasilan reproduksi yang ditunjukkan oleh jarak beranak < 14 bulan, maka sistem perkawinan dalam kandang kelompok sebaiknya menggunakan pejantan terpilih dan apabila menggunakan teknologi kawin suntik (IB) maka dapat menggunakan pejantan pengusik (detektor). Penggunaan pejantan terpilih atau pejantan pengusik dalam kandang kelompok diharapkan dapat meningkatkan kejadian kebuntingan (conception rate) terutama bagi induk-induk sapi yang mengalami birahi tenang (silent heat).
gambar
Keberhasilan sapi induk untuk menghasilkan anak setiap tahun (< 14 bulan) merupakan syarat utama dalam usaha pembibitan sapi potong. Prestasi ini sulit dicapai pada kondisi pemeliharaan ekstensif, pakan yang terbatas serta pengetahuan maupun luangan waktu yang terbatas untuk pengamatan birahi–terutama pada sapi-sapi yang mempunyai komposisi darah Bos taurus (impor) yang relatif tinggi. Selain itu, sebagian besar sapi-sapi betina tersebut menunjukkan kejadian birahi pada malam hari dengan lama waktu birahi yang cukup singkat yaitu kurang dari 6 jam.
Sistem Pemberian Pakan
Pakan hijauan berupa rumput segar dapat disediakan pada palungan sesuai dengan kemampuan peternak tanpa melihat jumlah ternak yang dipelihara dalam kandang kelompok. Kekurangan hijauan diharapkan dapat dipenuhi oleh pakan kering (misalnyajerami padi) yang tersedia secara ad-libitum dalam “bank pakan” sehingga dapat digunakan setiap saat sesuai kebutuhan ternak sapi (Gambar 2.). Dengan demikian, peternak dapat dengan leluasa mengatur waktu pemberian pakan, bahkan ternak dapat ditinggal beberapa hari apabila air minum dan pakan telah dipersiapkan sebelumnya.
Pakan tambahan merupakan bahan pakan alternatif pengganti untuk mengurangi penyediaan rumput segar apabila rumput segar lebih mahal dibanding dengan pakan tambahan. Pakan tambahan dapat dipenuhi melalui pemanfaatan limbah pertanian yang banyak ditemui di lokasi peternakan; seperti tumpi jagung, dedak padi, kulit kopi, ampas singkong, dan lain-lain. Sementara itu, air minum selalu tersedia (ad-libitum) di bak tempat minum.

Selasa, 04 Desember 2012

PENGIRIMAN SAPI KE PT TUM

Pembatasan Daging Impor, PT TUM Kurangi 200 Karyawan

Kabar6-Pembatasan daging sapi impor tak hanya dikeluhkan oleh pedagang dan pembeli di tingkat "pasar becek" saja. Pasalnya, kondisi serupa juga harus dirasakan oleh pelaku usaha ternak dan penggemukan sapi.

“Kami juga terkena dampak. Bahkan, sejak dua tahun terakhir kami terpaksa mengurangi karyawan hingga 200 orang,” ujar Heroe Sinbad, General PT Tanjung Unggul Mandiri (TUM), peternak dan penggemukan sapi, di Tanjung Burung, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Jumat (23/11/2012).

Haroe mengatakan, pembatasan impor sapi mengakibatkan pihaknya menjadi kesulitan untuk memenuhi target penjualan yang sudah ditetapkan. Sementara, pemerintah sendiri belum mengatur secara jelas soal tata niaga sapi.

“Kalau dulu, peredaran sapi lokal diatur oleh Koperasi Unit Desa (KUD). Dengan begitu, kita bisa tahu dimana titik-titik pembelian sapi lokal. Tapi kalau sekarang, kita tidak tahu dimana sebenarnya titik penjualan sapi berada,” ujar Haroe lagi.

Terkait kemungkinan adanya permainan hingga berdampak pada membengkaknya harga daging sapi hingga tembus Rp. 100 per kilogram, Haroe menjawab tegas tidak ada permainan.

“Disini kita jual sapi perkilogram kepada agen. Sementara, dari 1 ekor sapi agen hanya bisa menjual 50 persen daging dan 50 persen karkas (kepala, kaki, kulit dan jeroan) kepada Rumah Potong Hewan (RPH) dan pasar,” ujar Haroe.

Jadi, lanjut Haroe, wajar bila kemudian agen menaikkan harga jual kepasaran hingga 50 persen, dari harga beli di peternakan. Dan, selanjutnya pedagang menaikkan lagi harga belinya hingga 10 persen sebelum kemudian dijual kepasaran.(tom migran)

Kamis, 04 Oktober 2012

PERSIAPAN UNTUK HEWAN KURBAN

Waspada….Hewan Kurban Berpenyakit

(bisnis-jabar.com)
CIMAHI (bisnis-jabar.com) – Pemkot Cimahi mengimbau warganya untuk lebih jeli dalam memilih hewan kurban yang akan disembelihnya. Hal itu penting, agar warga tidak mendapatkan hewan berpenyakit.
Kepala Bidang Pertanian Dinas Koperasi Perindustrian Perdagangan dan Pertanian (Diskopindagtan) Kota Cimahi Suyoto mengatakan berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya dari 6.259 hewan kurban yang disembelih 3% diantaranya berpenyakit.
“Pada umumnya penyakit yang diderita hewan kurban itu adalah sakit mata, kembung dan cacing hati,” kata Suyoto kepada wartawan, Kamis (4/10).
Disampaikannya, hewan kurban yang sehat satu di antaranya warna kelopak matanya berwarna putih tidak berwarna merah dan berkulit bersih.
Kebutuhan hewan kurban di Cimahi pada tahun ini diperkirakan mengalami peningkatan sebesar 20% dari tahun sebelumnya hanya 5.000 ekor menjadi 6.000 ekor terdiri dari kambing dan sapi.
Persediaan hewan kurban untuk domba tinggal 3.947 ekor dan 37 ekor sapi. Padahal tahun sebelumnya, jumlah sapi mencapai 488 ekor dan domba mencapai 1.749 ekor.
“Bagi mereka yang akan berjualan kami wajibkan mereka memiliki kartu izin menjual hewan kurban yang dikeluarkan dinas setempat. Mayoritas pedagang berasal Kabupaten Garut, Kabupaten Bandung, Bandung Barat dan Sumedang,” ucapnya.
Menurutnya, salah satu hewan kurban yang patut diwaspadai adalah dari Kabupaten Purwakarta karena hewan kurban dari daerah tersebut pada tahun sebelumnya dianggap memiliki riwayat antraks.(k6/ajz)

Minggu, 12 Agustus 2012

PERMINTAAN DAGING SAPI MENINGKAT MENJELANG LEBARAN

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
JAKARTA, KOMPAS.com - Harga sejumlah bahan kebutuhan pokok di Jakarta diperkirakan akan merangkak naik hingga menjelang Lebaran. Untuk itulah dibutuhkan kepastian pasokan komoditas agar kenaikan harga bisa dikendalikan. Pantauan di sejumlah pasar tradisional di Jakarta dan sekitarnya, Rabu (8/8), harga daging sapi dan daging ayam tetap tinggi.
Wakil Ketua Komisi VI DPR Aria Bima meminta pemerintah agar mengawasi permainan monopoli atau kartel dalam perdagangan kebutuhan bahan pokok. Langkah ini diperlukan supaya kenaikan harga bahan kebutuhan pokok, terutama menjelang Lebaran, tidak bergerak liar tanpa kendali sehingga tak terjangkau oleh rakyat.
”Kalau memang harga masih relatif dalam batas kewajaran dan dinikmati peternak, itu no problem,” kata Aria Bima saat bersama rombongan Komisi VI DPR mengunjungi Pasar Anyar, Kota Tangerang, Banten, Rabu (8/8/2012).
Aria menuturkan, permainan kartel biasanya dapat ditengarai dari kenaikan harga yang terjadi secara tiba-tiba dengan memanfaatkan momentum Lebaran saat kebutuhan meningkat. Pedagang kartel pun memanfaatkan dengan menjadikan tingginya kebutuhan sebagai alasan naiknya harga. ”Saya kira peran Menteri Perdagangan di tingkat pusat sampai dengan dinas terkait di setiap daerah perlu mengawasi permainan monopoli atau kartel dalam kebutuhan bahan pokok ini,” kata Aria.
Eceran
Harga eceran daging sapi di sejumlah pasar di Jakarta Barat dan Jakarta Utara dalam sepekan ini mencapai Rp 80.000 hingga Rp 85.000 per kilogram (kg). Harga ini lebih tinggi dibandingkan dengan pada pertengahan bulan puasa tahun lalu yang hanya berkisar Rp 75.000 per kg.
Jaka, pedagang daging sapi di Pasar Grogol, Jakarta Barat, mengungkapkan, tingginya harga daging sapi saat ini disebabkan harga dari agen sudah tinggi. Padahal, katanya, kalau harganya terlampau tinggi juga menyebabkan pelanggan enggan membeli.
”Kalau harga daging terus merangkak naik, penjualan pun bisa menjadi lesu,” ucap Jaka.
Menurut Memet (48), pedagang daging sapi di Pasar Rawabadak, Jakarta Utara, harga daging sapi saat ini memang masih tinggi. Namun, masih cukup diuntungkan dengan pasokan sapi yang lancar ke pedagang sehingga harganya tak terus naik.
”Sekarang saya bisa mendapatkan pasokan sampai enam ekor sehari. Padahal pada awal puasa kemarin hanya empat atau lima ekor,” katanya.
Selama pasokan daging sapi lancar, kata Memet, harga daging sapi dapat dikendalikan. Paling tidak harganya tak melambung terlampau tinggi pada tiga hari menjelang Lebaran.
”Kalau pasokan daging sapi lancar, paling mendekati Lebaran itu harganya berkisar Rp 90.000 per kg. Kalau tidak, itu harganya bisa sampai Rp 100.000 lebih per kilogramnya,” tutur Memet.
Menurut dia, kenaikan harga daging menjelang Lebaran itu tak hanya disebabkan tingginya harga daging sapi dari pemasok. Namun, itu juga disebabkan adanya kenaikan upah bagi penyembelih dan pemotong ternak selama menjelang Lebaran.
”Misalnya upah penyembelih itu biasanya Rp 70.000. Mendekati Lebaran, upahnya bisa jadi Rp 150.000 per ekor. Itu hitung- hitung untuk tunjangan hari rayanya,” kata Memet.
Sementara itu harga ayam ras per ekor di sejumlah pasar di Jakarta dalam sepekan ini merangkak naik Rp 200 per kg. Dimulai dari Rp 22.000 untuk ayam ukuran kecil, Rp 32.000 untuk ukuran sedang, dan Rp 40.000 untuk ayam berukuran besar.
”Minggu depan mungkin saja naiknya bakal lebih besar,” kata Heru, salah satu pedagang ayam di Kebayoran Lama.
Heru menambahkan, tidak pernah ada masalah soal jumlah pasokan. Ia sendiri biasa menambah pasokan hingga dua hingga tiga kali lipat di banding hari-hari di luar puasa dan tetap bisa dipenuhi oleh pemasok.
”Kalau harga ayam naik karena harga pakannya naik, masak terjadi tiap tahun?” katanya lagi.
Sebaliknya untuk harga telur, selama sepekan cenderung turun. Pada awal bulan puasa lalu harganya mencapai Rp 20.000 per kg, kini menjadi Rp 16.000 hingga Rp 17.000 per kg.
Pasokan lancar
Menanggapi kenaikan harga bahan kebutuhan pokok ini, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengakui ada beberapa komoditas yang harganya masih merangkak naik. Daging, misalnya, harganya terus merangkak naik sejak awal puasa hingga pertengahan bulan puasa ini.
Namun, menurut Fauzi, Kementerian Pertanian telah men- jamin suplai daging untuk DKI Jakarta hingga Lebaran nanti akan dicukupi.
”Makanya harga daging untuk saat ini relatif stabil meski memang tetap tinggi,” katanya.
Untuk harga telur pun, lanjutnya, juga sudah mulai terkendali. Malah belakangan, harganya mulai turun, dan itu karena suplainya cukup untuk ke Jakarta.
Lebih lanjut Fauzi mengatakan, untuk mengatasi kenaikan harga bahan pokok lainnya akan terus digelar pasar murah di beberapa lokasi di lima wilayah kota hingga menjelang Lebaran nanti, dengan sasaran utama warga miskin.
”Harga paket Rp 50.000 dijual murah seharga Rp 20.000. Ini banyak diminati warga. Ini akan terus dilakukan sampai menjelang Lebaran,” katanya.
Pinggiran
Dalam sepekan terakhir, kenaikan harga daging ayam dan sapi di pasar tradisional dan modern Tangerang Selatan, Banten, dan Depok, pun masih terkendali.
Muhidin, pedagang daging sapi di Pasar Ciputat, mengaku, harga daging sapi tidak mengalami kenaikan setelah sebelumnya naik dari Rp 60.000 per kg menjadi Rp 80.000 per kg.
Di Pasar Kemiri Muka Kota Depok, harga telur dan ayam potong dalam sepekan terakhir malah turun menjadi Rp 16.000 per kg. Padahal, sebelum puasa, harga telur di pasar tradisional terbesar di Depok ini mencapai Rp 21.000 per kg. Turunnya harga telur ayam ini disinyalir karena stoknya cukup banyak. (NEL/FRO/MDN/PIN/NDY/CAS)